aku merupakan seorang yang selalu pengen UP to Date, dan semua tulisan di blog ini adalah sebagian dari kegiatan q di BIOLOGY EDUCATION

Kamis, 19 Februari 2009

30 HARI ICON PERUBAHAN JIWA

Dewasa ini orang sering menyebut jaman yang kian modern, yaitu jaman yang maju tanpa penindasan, tanpa aturan, dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan yang bias disebutkan sebagai definisi dari kebebasan. Sesuatu yang modern kian identik dengan hal baru dan yang up date,dan disini pola fikir yang kian global, gaya hidup yang berbau hedonisme, bahkan semua prinsip hidup nya utuh seperti orang-orang modern.kini manusia cenderung mengutamakn akal belaka,semua apa yang ia pikirkan, maka itu yang ia jadikan pedoman hidup. Sungguh keadan seperti ini tanpa kita sadari sudah menjangkit kita, racun dunia ini sungguh ganas dan mematikan. Memang modern bukanlah hal yang salah dan buruk akn tetapi semua ini haruslah di imbangi dengan budaya asli kita, budaya yang pasti,mutlak dan absolute kebenaran nya, yaitu budaya islam, budaya yang mengatur segala aspek kehidupan umat manusia.

Sungguh ironis sekali sekarang ini uma manusia sekarang ini,apalagi yang mengaku mereka itu sebagai muslim, justru mereka meniru budaya hedonisme itu, yang mana hedonisme bukan budaya islam, yaitu budaya orang muslim,akn tetapi mau tidak mau kita pun sudah terlanjut terhanyut arus hedonisme, mereka banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat umum saja, katakana bekerja dan bekerja, hidup hanya untuk uang, menumpuk kekayaan saakan dia hidup selamanya, mamang islam pun mengajarkan hal saperti itu juga, yaitu menumpuk kekeyaan, bahkan ada hadist yang menyebutkan bahwa carilah harta sebanyak banyaknya se olah kamu hidup selamanya, akan tetapi islam juga mengajarkan, boleh menumpuk harta sebanyak banyaknya, tapi harta itu khalalan toyiban, dan paling utama jngan sekali-kali dilupakan zakat dari harta itu. Nah inilah masalah utama dalam kehidupan ini, banyak orang yang menumpuk harta tanpa kenal waktu, kapan sholat, kapan isirahat, dan kapan berzakat. Melihat fenomena yang kian mark ini maka perlu adanya sebuah icon baru, dan mutasi-mutasi baru dari pola fikir kita, banyak sekali aspek-aspek dari islam yang bias di gunakan untuk mengimbangi bahkan menghalangi budaya hedonisme meracuni umat muslim. Islam dikatakan agama yang amat sangat sempurna bahkan dalam sebuah geja-gejala social umat sepanjang jaman, islam sudah memberikan problem solving nya, inilah sebuah icon yang begitu dasyat, kita gunakan ebagai obat bagi kita untuk menjalani kehidupan yang sudah beracun ini, yaitu berdzikir, kembali ke ajaran islam.

Jika kita lihat, kebanyakan orang tidak sempat beribadah yang lama dan monoton satu tempat, katakana di masjid mereka setelah beribadah cenderung langsung terburu-buru pergi, bahkan yang lebih aneh tanpa doa, dari kenyataan ini maka kita perlu berfikir kritis bagaimana caranya, ibadah yang kondisional tempatnya tapi tidak menghilangkan sisi-sisi ibadah dan ingat selalu pada Allah. Ternyata islam sudah memberikan solusinya yaitu berdzikir, Dzikir adalah jawaban islam dalam masalah ini. Selain icon dari dzikir, islam juga memberikan solusi lain yaitu dengan momem bonus momen akbar, yaitu 30 hari bulan ramadhan, bulan yang amat sangat akbar dan perfec bagi kita untuk bermunajat, barmukhasabah pada diri kita atas semua kelalaian kita.

Di sinilah cara-cara atau icon-icon perubahan yang ingin di sampaikan oleh Muhammad Arifin Ilham dalam bukunya yang berjudul 30 Hari Meraih Kekuatan Zikir ini.Penulis menjelaskan secara gambling bagaimana cara-cara dan kapan momen untuk merubah kehidupan kita bias berarti, yaitu kita kenbali ke jalan islam, bahkan kiat-kiat ala islami dalam menyikapi jalannya kehidupan, agar kita tidak terjerumus pada budaya-budaya hedonisme yang menghilangkan sisi ketuhanan umat muslim.

Rabu, 11 Februari 2009

KARYA SEJARAH MIKROBIOLOGI DALAM MENJAWAB PERANAN BIDANG MIKRO MODERN

Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari organisme hidup yang berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang melainkan dengan bantuan mikroskop. Organisme yang sangat kecil ini disebut sebagai mikroorganisme, atau kadang-kadang disebut mikroba ataupun jasat renik. Adanya dunia mikroorganisme belum dapat diketahui sampai ditemukannya mikroskop. Alat optik ini berguna untuk membesarkan bayangan benda yang demikian kecil sehingga tidak nampak jelas dilihat tanpa bantuan alat itu. Anthony Van Leeuwenhoek (1632-1723), seorang pedagang belanda yang mengetahui tentang adanya dunia mikroorganisme tersebut, yang kemudian dengan mikroskop buatannya itu dapat melihat makhluk-makhluk kecil yang sebelumnya tidak diduga keberadaannya. Dia adalah orang yang pertama kali yang mengetahui adanya dunia mikroorganisme itu.

Dunia mikroba lebih terbuka lagi ketiak Louis Pasteur, seorang ahli kimia prancis menemukan prinsip-prinsip dasar yang berkaitan dengan sifat hidup mikroorganisme, antara lain masalah fermentasi. Beberapa mikroorganisme yang terlibat dalam proses fermentasi makanan: pembuatan keju, anggur, yoghurt, tempe/oncom, kecap, dll, produksi penisilin, sebagai agens biokontrol, serta yang berkaitan dengan proses pengolahan limbah.

Mikroorganisme yang merugikan, antara lain yang sering menyebabkan berbagai penyakit (hewan, tumbuhan, manusia), diantaranya: flu burung yang akhir-akhir ini menggemparkan dunia termasuk Indonesia, yang disebabkan oleh salah satu jenis mikroorganisme yaitu virus. Selain itu, juga terdapat beberapa jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Asal usul kehidupan mikroorganisme diawali dengan kegemaran seorang ilmuwan bernama Leeuwenhoek yang mengamati mikroorganisme pada air hujan, air laut, dan kotoran gigi. Ternyata pada berbagai bahan tadi banyak ditemukan jasad renik, diantaranya protozoa, khamir, dan bakteri. Walaupun saat itu, Leeuwenhoek hanya menggunakan jenis mikroskop yang sangat sederhana. Kemudian berkembang, munculnya jasad renik berasal dari dekomposisi jaringan tumbuhan/hewan yang telah mati atau dengan kata lain kehidupan muncul begitu saja dan berasal dari bahan mati, sehingga dikenal dengan teori Generatio Spontanea: Abiogenesis (abio: tidak hidup, genesis: asal). Teori tersebut diperkuat dengan pembuktian bahwa daging yang dibiarkan membusuk dan menghasilkan belatung.

Namun, teori tersebut dapat dipatahkan oleh Francesco Redi, dkk. melalui beberapa percobaan yang dilakukannya, sehingga berkembang teori baru yang dikenal dengan Generatio Spontanea: Biogenesis yang menyatakan bahwa kehidupan berasal dari bahan yang hidup. Hal ini dibuktikan bahwa belatung pada daging yang membusuk tidak terjadi secara mendadak dan berasal dari bahan mati. Tetapi, lalat tertarik dengan daging yang membusuk, kemudian bertelur di atas kain yang menutupi dagingnya, baru kemudian tumbuh belatung. Teori itupun akhirnya disanggah lagi oleh beberapa tokoh yang menyatakan bahwa mikroorganisme terjadi tidak secara tiba-tiba. Tokoh-tokoh tersebut antara lain: John Needham, Lazzaro Spallanzani. Sedangkan John Tyndall dan Louis Pasteur adalah tokoh-tokoh yang memberikan sanggahan akhir terhadap teori generation spontanea dengan dibuktikannya proses fermentasi, dengan menyatakan bahwa mikroorganisme hanya dapat muncul atau timbul akibat dari aktivitas jasad renik lain.

Saat ini informasi yang diperoleh dari mikrobiologi memberikan sumbangan besar, khususnya dalam mengawasi penyakit menular. Selain itu, mikroorganisme telah digunakan untuk mempelajari berbagai proses biokimia yang diketahui terjadi pula pada bentuk kehidupan yang lebih tinggi. Banyak fakta tentang metabolisme manusia yang diketahui sekarang mula-mula diketahui terjadi pada mikroorganisme. Demikian pula dengan teknologi yang sekarang sedang popular, misal Rekayasa Genetik, yang tidak lain merupakan perkembangan genetika molekuler yang menjelaskan bagaimana gen mengatur aktivitas sel. Semua ini berasal dari studi tentang mikroorganisme. Jadi, bidang mikrobiologi tidak hanya studi tentang penyebab penyakit tetapi merupakan studi tentang semua aktivitas hayati mikroorganisme. Diharapkan di waktu mendatang, dapat mengendalikan kelainan genetika dan penyakit seperti kanker. Selain itu, juga diharapkan dapat diperoleh berbagai varietas hewan/tumbuhan yang berkualitas (cepat panen, tahan penyakit, dan produktivitasnya tinggi).

PEMBAHASAN

Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari organisme hidup yang berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang melainkan dengan bantuan mikroskop. Organisme yang sangat kecil ini disebut sebagai mikroorganisme, atau kadang-kadang disebut mikroba ataupun jasat renik. Seperti virus (virologi), pengetahuan tentang bakteri (bakteriologi), pengetahuan tentang hewan bersel satu (Protozoologi), pengetahuan tentang jamur (Mikologi), terutama yang meliputi jamur-jamur rendah.

Dunia mikroba lebih terbuka lagi ketiak Louis Pasteur, seorang ahli kimia prancis menemukan prinsip-prinsip dasar yang berkaitan dengan sifat hidup mikroorganisme, antara lain masalah fermentasi. Sehingga banyak masalah dan pertanyaan yang tadinya belum terjawab setelah penemuan-penemuan pasteur menjadi jelas. Tampil pula peranan penemu lain yang banyak berjasa dalam dalam mikrobiologi seperti Robert Koch, seorang dokter Jerman. Atas penemuan dan hasil penelitiannya, kemudian katan dan peranan mikroba sebagai penyebab penyakit dapat di terangkan secara jelas dengan postulat (batasan) yang telah di susunnya masih berlaku sampa sekarang yang umumnya disebut dengan Postulat Kock.

Era Perintisan Tahun 1850

Pada periode perintisan ini timbul fenomena, batasan (postulat) tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan mikrobiologi secara umum maupun secara khusus, yang berkaitan dengan bidang kesehatan lingkungan, pertanian, dan lain sebagainya. Dalam periode ini para ahli mencoba mencari jawaban dari berbagai permasalahan yang timbul di lingkungannya yang mungkin berkaitan dengan mikroba, antara lain dari mana asal mula kehidupan yang pertama, kenapa makanan menjadi rusak (membusuk, berlendir), bagaimana suatu penyakit dapat menular dan menyebar (masalah kontagion), kenapa bila terjadi luka bisa membengkak dan mengeluarkan nananh, dan bagaimana proses fermentasi terjadi.

Anthony Van Leeuwenhoek (1632-1723)

Penemu mikroba pertama adalah Anthony Van Leeuwenhoek (1632-1723). Penemuan ini diawali oleh penemuan mikroskop. Lensa mikroskop buatannya masih sangat terbatas perbesarannya (200-300 kali). Mikroskopnya mempunyai sedikit mempunyai persamaan dengan mikroskop sekarang. Lensa berbentuk bola yang dipasang diantara dua pelat logam yang kecil. Benda yang akan di amati diletakkan di ujung jarum tumpul yang diletakkan di pelat belakang dan difokuskan dengan memutar dua sekrup yang dapat mengubah letak jarumterhadap lensa. Dengan sarana ini dia dapat mengamati mikroorganisme di dalam air hujan, air laut, bahan pengorekan dari sela-sela gigi, campuran yang sedang berfermentasi dan berbagai bahan lainnya, kemudian ia menamai hewan temuan pertamanya ini dengan nama hewan kecil (animalcule) .

Anthony Van Leeuwenhoek sebenarnya adalah seorang pedagang Belanda, tidak pernah mengenyam pendidikan formal, dan hanya tahu tentang bahasa belanda saja. Sekalipun demikian, hasil penemuannya membuka cakrawala baru tentang adnya mikroorganisme.

Teori Generatio Spontanea (Abiogenesis) Dan Biogenesis

Setelah Leeuwenhoek menyingkapkan rahasia alam tentang mikroba, timbul rasa ingin tahu para ilmuan tentang asal usul mikroba tersebut. Ada dua berpendapat mengenai hal ini. Beberapa orang percaya bahwa animalkules timbul dengan sendirinya dari bahan-bahan yamg mati, sedangkan yang lain berpendapat bahwa mereka terbentuk dari benih yang selalu ada di udara.

Sebenarnya teori abiogenesis sudah sejak lama ada, hal ini terbukti Aristoteles (300 sm) telah berpendapat, bahwa mahluk-mahluk kecil terjadi begitu saja dari benda mati. Pendapat ini juga di anut oleh Needham, seorang bangsa polandia selama 5 tahun mengadakan eksperimen-eksperimen dengan berbagai rebusan padi-padian daging dan lain seabagainya. Meskipun air rebusan tersebut disimpan rapat-rapat dalam botol tertutup, namun masih timbul mikroorganisme dengan perkataan lain kehidupan baru dapat timbul dari barang mati.

Teori Generatio Spontanea ini di kembangkan untuk menjelaskan adanya lalat pada daging yang membusuk pada air yang menggenang, pada abad XIX, muncul isu ilmu pengetahuan mengenai dari mana asal-usul kehidupan. Setelah ditemukannya suatu dunia organisme yang tidak tampak dengan mata telanjang memebangun minat terhadap perbedaan mengenai asal-usul kehidupan yaitu dari manakah asal jasad-jasad renik itu muncul, maka timbullah pertentangan antar ilmuan sehingga lahirlah teori abiogenesis. Ilmuan-ilmuan yang juga mengamati teori Generatio Spontanea antaralain.

Pengetahuan tentang mikroorganisme semakin bertambah, sedikit demi sedikit bahkan generatio spontanea pada mahluk hidup tidak ada. Hal ini dibuktikan pada tahun 1665 oleh Francesco Redi, seorang dokter dari italia dari hasil percobaannya, ditunjukkan bahwa ulat berkembang biak di dalam daging busuk tidak akan terjadi bila daging disimpan dalam suatu tempat di tutup dengan kasa halus sehingga lalat tidak dapat menaruh telurnya dalam dalam daging itu. Redi melakukan eksperimen dengan memasukkan daging kedalam wadah yang ditutup dengan kain tupis yang berlubang hakus untuk mencegah masuknya lalat, ia membuktikan bahwa belatung tidak terjadi secara mendadak pada daging yang membusuk. Lalatlah yang tertarik pada daging yang membusuk, bertelur pada kain tipis yang penutup wadah. Ketiadaan belatung yang tumbuh pada daging yang memebusuk memberikan bukti yang menentukan untuk menentang perkembangan secara mendadak.

Orang yang juga menentang pendapat Aristoteles dan Needham adalah Lazzaro Spallanzani pada tahun 1768. Dia mengatakan bahwa perebusan dan penutupan botol-botol berisi air rebusan yang dilakukan oleh Needham tidak sempurna spallanzani sendiri merebus sepotong daging sampai berjam-jam lamanya, kemudian air rebusan itu di tutup rapat-rapat di dalam botol, dengan demikian tidak diperoleh mikroorganisme baru.

Pada tahun 1836 Schultze memperbaiki eksperimen spallanzani dengan mengalirkan udara lewat suatu asam atau basa yang keras kedalam botol isi kaldu yang telah direbus dengan baik terlebih dahulu. Pada tahun 1837 membuat percobaan serupa itu juga dengan mengalirkan udara lewat pipa yang dipanasi berjam-jam lamanya.

Schoeder dan Th. Von Dusch tahun 1854 menemukan suatu akal untuk menyaring udara yang menuju ke dalam botol yang berisi kaldu, dan demikian tumbanglah teori abiogenesis. Pada tahun 1865 Louis Pasteur melakukan percobaan, dimana dia menggunakan suatu botol yang berisi kaldu dengan di tutup oleh pipa yang melengkung seperti leher angsa. Dengan akal yang istimewa ini pasteur dapat meyakinkan kepada khalayak, bahwa tidak ada kehidupan baru yang timbul dari barang mati.

Serangkaian percobaan lain berusaha membuktikan bahwa teori abiogenesis adalh tidak benar adalah John Tyndall. Ia seoarang ahli fisika dari inggris dan merupakan seorang pendukung pasteur. Thyndall melakukan serangkaian percobaan dengan kaldu yang terbuat dari daging dan sayuran segar, ia memperoleh cara sterilisasi dengan menaruh tabung-tabung kaldu ayam dalam air garam yang sudah mendidih 5 menit. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pada bakteri terdapat fase-fase tertentu yang satu bersifat termolabil dan yang satunya bersifat termoresisten. Yang kemudian Tyndall melanjutkan dengan mengembangkan cara sterilisasi dengan pemanasan terputus, yang kemudian disebut sebagai Tyndalisasi.

Fermentasisebagai Proses Mikrobiologis

Pada tahun 1837, C. Cagniard-Latour, Th. Schawann, dan F. Kutzing secara terpisah mengemukakan bahwa khamir yang terdapat pada proses fermentasi yang menghasilkan alkohol adalah tumbuhan renik. Cukup ironis sekali ,louis Pasteur seorang ahli kimia dapat meyakinkan dunia ilmu pengetahuan bahwa semua proses fermentasi adalah hasil kegiatan mikroorganisme. Karya Pasteur mengenai fermentasi berpangkal dari hal yang praktis. Pabrik minuman keras di Lille meminta tolong kepada Pasteur. Selama penyelidikannya mengenai fermentasi, Pasteur menemukan peristiwa biologis lainnya, yakni bentuk kehidupan yang dapat hidup tanpa pksigen bebas. Dengann penemuannya ini ia memperkenalkan istilah Aerobik dan Anaerobik yang masing-masing menandakan kehidupan tanpa oksigen dan tanpa oksigen.

Penemuan Peranan Mikroorganisme Sebagai Penyebab Penyakit

Varro, bangsa romawi pada abad pertama sebelum masehi mempunyai pendapat bahwa penyakit tertentu oleh sesuatu yang dibawa oleh udara masuk kedalam tubuh manusia melalui mulut atau hidung. Pada masa Francastorius (Italia, 1546), berkat pengamatannya mengenai penularan penyakit seperti pes, cacar, toberkolosis, karena adanya sesuatu”seminaria” (benih) yang tular menular dari seorang ke irang lain. Kemudian Kircher, 1654 telah mengetahui cara penyebaran, penularan, dan perpindahan jasat penyebab penyakit, karena ia menemukan cacing-cacing kecil di dalm darah penderita pes. Penemuan Kircher dapat memberikan jalan ditemukannya penyakit campak oleh Panum (Ahli kedokteran dari Denmark, 1820-1885) dan penyebab epidemi kolera-Asia oleh Snow (1813-1858) dan Budd (1811-1880). Pada tahun 1840, Henle seorang ahli ilmu penyakit bangsa Jerman menyatakan suatu penyakit tertentu disebabkan oleh suatu mikroorganisme tertentupula. Sebenarnya pendapat Henle ini sudah dimiliki oleh Von Plencis, 1762 (Austria), ia menyatakan bahwa tiap penyakit disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme (penyebab yang berbeda). dibuktikan oleh Wollstein, 1787 dengan menggesekkan sesuatu yang diambil dari rongga hidung kuda menderita penyakit pilek kepada rongga hidung yang sehat, dan ternyata kuda yang sehat itu pilek juga. Oiver Wendell Holmes, 1843 dan Ignaz Semmelweis (1847), di wina secara terpisah bahwa tangan atau alat yang dipakai oleh dokter yang mengadakan pembedahan perlu sekali disinfeksi dulu agar tidak membawa bibit penyakitkepada pasien. Dengan mencuci tangan dengan larutan antiseptik maka hal tersebut dapat dicegah.

Pollender (1849) menemukan mikroorganisme di dalam darah ternak yang menderita penyakit antrax, dan darah yang mengandung mikroorganisme tersebut dapat menjangkitti ternak yang masih sehat. Secara umum pada periode perintis ini masalah mikrobiologi bidang penyakit (kedokteran) yaang paling banyak diteliti, diamati, dan diungkapkan.

Era Keemasan

Periode keemasan ini dikaitkan dengan penemuan-penemuan baru terutama oleh Robert Koch, tentang piaraan murni. Berdasarkan hal tersebut ia mengemukakan 4 dalil (postulat) yang terkenal dengan “Postulat Koch”. Penyelidikan lebih lanjut mengatakan bahwa, keempat dalil itu tidak selalu berlaku. Misalnya, basil tipus Salmonellatyphosa dapat dipiara secara murni,tetapi hasil yang dipiara itu tidak dapat lagi menimbulkan penyakit tipus pada hewan yang masih sehat. Basil yang telah dipeliara itu telah kehilangan keganasannya. Kelemahan lain dari postulat koch adalah bahwa tidak setiap bakteri patogen dipiara secara murni.

Penelitian-penelitian Koch yang lain adalah pembiakan kuman antraxs (1876). Koch juga menenukan cara pewarnaan dan cara-cara memperoleh bakteri dalam biakan murni dengan menggunakan pembiakan padat. Disamping itu mmenemukan kuman Tuberkolosis (1882), Vibrio cholerae (1883), dan menemukan hipersensifitas pada kuman Mycobacterium tubercolusis.

Pada periode keemasan juga ditemukan cawan petri (petri disk)di dalam cara teknik mikroba oleh Petri (salah seorang asisten Koch). Penemuan Gram (1844) untuk sistem pewarnan baakteri, sehingga bakteri terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni Gram positif dan Garam negatif. Penemuan Chamberland, yakni bahan dengan sistem saringan atau filter (1887) secara fisik.

Era Modern

Pada era ini ditandai dengan dipakainya metode dan alt yang mutakhir, seperti misalnya mikroskop elektron, kromatografi, sampai dengan komputer.

Masalah-masalah pelik yang sebelumnya belum terungkap dan belum dijelaskan misalnya antibiotik, vaksin, serum, sekarang telah diketahui.

Virus, misalnya sudah sejak lama Pasteur dan Koch telah melakukan penelitian. Tetapi publikasi yang lebih jelas mengenai virus baru diumumkan oleh Iwanowski, yaitu sebagai penyebab penyakit aneh pada daun tembakau (TMV = tobacco mozaic virus) terungkaplah

Herelle (1967) dan Towert (1951) menemukan fenomena lisis pada biakan kuman, yang disebabkan oleh bakteriofage (virus yang menyerang bakteri). Fleming (1925) secara kebetulan menemukan jamur Penicillium yang dapat membuat zat penghancur bakteri Stafilokokus. Jerne (1955) mengungkapkan teori seleksi ilmiah dari sintesis antibodi. Burner (1957) mengemukakan seleksi klonal, dan Burnet (1967) memperkenalkan daya pencegahan imunologis. Periode modern masih akan ditandai masih akan mempunyai sejarah panjang di zaman sekarang, kalau dikaitkan dengan semakin luasnya wawasan mikrobiologi di berbagai bidang ilmu lainnya.

Mengkaji sejarah perkembangan mikrobiologi diatas sangatlah menjadi hal yang menarik, dikarenakan banyaknya segala upaya para ilmuan yang intinya ingin mengetahui asal mula kehidupan. Dalam hak ini terjadi sebuah benturan-benturan dan pertentangan antar para ilmuan, mereke berlomba-lomba mencari kebenaran dari sebuah teori dan ilmu pengetahuan mereka, dan tidak jarang kita dapatkan fenomene bahwa mereka saling menjatuhkan dalam hal pendapat, dengan segala penelitian yang dilakukan. Dan mereka menganggap bahwa asal mula kehidupan adalah dari benda mati. Disinilah terjadi perdebatan dan pertentangan pendapat dan hasil eksperimen yang dilakukan. Jawaban dari semua ini tergantung dari pandangan hidup seseorang, jika dikaitkan dengan segi spiritual yaitu aqidah islam, maka bukti-bukti tenteng penciptaan alam alam semesta termasuk didalamnya seluruh makhluk hidup di muka bumi, jelas tercantum di dalam Al-Quran, sebagaimana firman Allah yaitu:

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”(Qs Al-Baqarah : 29)

“yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya[1053]”( Qs Al-Furqon : 2)

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia” ( Qs Yasin :82)

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” ( Qs Al-Hijjr :28-29)

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” ( Qs Al-Hajj :5)

“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy[1188]. Tidak ada bagi kamu selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at[1189]. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? ( Qs As-Sajadah :4)

Dari penggalan ayat di atas maka sesungguhnya semua mahluk yang ada didunia dan seluruh alam semesta, baik besar maupun kecil bahkan mikrooganisme, adaalah merupakan ciptaan dari Allah SWT. Dengan mempelajari tentang mikrobiologi dan sejarahnya maka kita telah menambah nilai keimanan dan ketaqwaan, bahkan ilmu kita.

MENGOBATI KETOMBE YANG MEMBANDEL DENGAN EKSTRAK DAUN PANDAN WANGI

Rambut adalah mahkota bagi wanita, itulah ungkapan yang sering kita dengar untuk melukiskan betapa pentingnya memiliki rambut yang sehat. Namun tidak mudah memiliki rambut indah dan sehat karena seringkali rambut bermasalah. Dengan adanya masalah pada rambut mengakibatkan terganggunya berbagai aktivitas, karena kepala terasa pusing. Seperti halnya penyakit ketombe (Dermatitis seboroika). Menurut Harahap (2000), di Jakarta golongan penyakit ini sepanjang masa selalu menempati urutan kedua setelah dermatitis. Di daerah yang lain, seperti Padang, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Menado, keadaannya kurang lebih sama, yakni menempati urutan ke-2 sampai ke-4 terbanyak dibandingkan golongan penyakit yang lainnya.

Ketombe atau dandruff, adalah kelainan kulit kepala yang ditandai dengan banyaknya timbul sisik putih kasar pada kulit kepala, juga pada rambut. Kelainan kulit ini termasuk penyakit dermatitis seboroika, yaitu jenis penyakit kulit yang khusus mengenai daerah yang banyak mengandung kelenjar minyak. Hanya, reaksi peradangan pada ketombe tidak begitu jelas. Baru setelah dilihat di bawah mikroskop, akan tampak kelainan struktur jaringan kulit kepala.

Berbagai kondisi dapat memudahkan seseorang berketombe, seperti jamur kulit yang cepat (hiperproliferasi epidermis), gangguan hormonal, kelainan sistem syaraf, beban psikologis, iklim tropis dengan kelembaban tinggi, ketidakseimbangan nutrisi, serta keaktifan kelenjar minyak. Namun beberapa studi menunjukkan bahwa pada dermatitis seboroika, kadar minyak pada kulit kepala tidak bertambah, hanya komposisinya saja yang berubah, seperti adanya pengaruh komposisi lemak kulit yang lebih banyak mengandung kolesterol. Jadi, ketombe tidak identik dengan kulit kepala berminyak.

Berdasarkan penelitian, gangguan sistem kekebalan tubuh pun dapat menimbulkan ketombe. Karenanya 80% pengidap AIDS, juga menderita ketombe. Ternyata ditemukan juga sejenis mikroba yang menjadi penyebab ketombe, yaitu sejenis jamur Pityrosporum ovale, Malassezia sp. Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab ketombe ini, diharapkan gangguan ketombe dapat diobati dengan tepat (Anonymous, 2004).

Menurut (Anonymous, 2004), penelitian terakhir menyebutkan bahwa 90 persen ketombe disebabkan oleh jamur. Dalam dunia kedokteran jamur ini dinamakan pityrosperum ovale. Biasanya obat yang diberikan pada penderita Dermatitis seboroika adalah obat-obatan jenis asam salisil, sulfur, selenium sulfid, kortikosteroid, dan ketokonazol (Harahap, 2000).

Penyakit infeksi dapat ditanggulangi dengan menggunakan obat diantaranya dengan pengobatan antibiotika. Pada zaman dahulu masyarakat belum mengenal bahan pengobatan modern. Pengobatan bergantung pada berbagai bahan yang diperoleh di sekitar rumah. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan khususnya ilmu kedokteran dan farmasi, kebiasaan yang dahulu mereka lakukan sedikit demi sedikit mereka tinggalkan dan beralih dengan penggunaan obat-obat sintetis. Akhir-akhir ini masyarakat mulai menyadari tentang dampak penggunaan obat-obat modern terhadap kesehatan terutama apabila digunakan secara terus menerus. Apalagi semakin mahalnya harga obat-obat sintesis. Karena itu masyarakat mulai kembali lagi kepada pengobatan tradisional (Backer, 1963).

Salah satu alternatif produk alami yang dapat digunakan sebagai obat mengatasi ketombe adalah daun pandan wangi. Produk dari daun pandan wangi ini dapat dibuat dengan memebuat membut juice daun pandan wangi hingga menghasilkan sari perasan atau infus. Kemudian infus tersebut di injeksiksn ke kepala, seperti orang yang pakai sampo.

Dimana pada penelitian ini herba pandan wangi dibedakan atau dipisahkan antara bagian batang, bagian akar dan bagian daun. Kemudian masing-masing bagian tersebut dijuicer hingga menghasilkan sari perasan atau infus. Infus hasil juice lalu diencerkan sesuai konsentrasi yang diinginkan. Setelah itu kertas cakram diambil dengan pinset steril dan diletakkan pada Medium Agar Dektrosa Sabourad yang sudah digoreskan jamur Pityrosporum ovale dan ditetesi infus dengan menggunakan mikropipet hingga mengenai seluruh kertas cakram. Kemudian diletakkan dalam inkubator selama 24 jam dengan suhu 37ÂșC.

Berdasarkan hasil penelitian efek berbagai konsentrasi infus herba pandan wangi (Pandanus amaryllifolius roxb.) terhadap jamur Pityrosporum ovale secara in vitro Setelah data diperoleh (tabel 1) selanjutnya data dianalisis dengan uji normalitas (uji liliefors). Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah datanya berdistribusi normal atau tidak. Adapun hasil uji normalitas diameter zona hambat pityrosporum ovale, berdasarkan hasil uji tersebut diketahui bahwa data yang diperoleh adalah berdistribusi normal yaitu dengan melihat Lhitung (0,144) < Ltabel (0,167) pada taraf signifikansi 1% sehingga Ho diterima.

Setelah penyebaran data normal, maka analisis data dilanjutkan dengan uji homogenitas. Uji homogenitas bertujuan mengetahui apakah varian datanya homogen atau tidak. Hasil analisis uji homogenitas terlihat, data mempunyai varian yang sama atau homogen. Hal ini dapat dilihat dari X2tekoreksi (24.316) < X2tabel (34.8) pada taraf signifikansi 1% dengan derajat v = 18 sehingga Ho diterima yang artinya bahwa varian data yang diperoleh adalah homogen.

Setelah data yang diperoleh sudah berdistribusi normal dan varian data juga sudah homogen, maka data dilanjutkan dengan uji anava dua arah dengan taraf signifikansi 1%. Dari analisis varian 2 jalur pada tabel 2 dapat disimpulkan bahwa pada faktor herba pandan wangi nilai Fhitung < Ftabel maka Ho diterima dan Hi ditolak, artinya pada faktor tunggal herba pandan wangi tidak mempengaruhi secara signifikan perbedaan rata-rata diameter zona hambat. Pada faktor konsentrasi infus herba pandan wangi nilai Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak dan Hi diterima, artinya pada faktor tunggal konsentrasi herba pandan wangi mempengaruhi secara signifikan perbedaan rata-rata diameter zona hambat. Sedangkan interaksi faktor kombinasi antara berbagai konsentrasi infus herba pandan wangi nilai Fhitung < Ftabel maka Ho diterima dan Hi ditolak, bila pada faktor kombinasi antara berbagai konsentrasi infus herba pandan wangi tidak mempengaruhi secara signifikan perbedaan rata-rata diameter zona hambat.

Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan diameter zona hambat pada masing-masing konsentrasi infus herba pandan wangi, maka analisis dilanjutkan dengan uji Duncan’s. Pada uji Duncan’s berbagai konsentrasi infus herba pandan wangi yang baik pengaruhnya terhadap diameter zona hambat Pityrosporum ovale terdapat pada perlakuan konsentrasi 20%-70% karena berbeda dengan perlakuan kontrol. Sehingga perlakuan konsentrasi 20% sudah bisa digunakan untuk pengobatan penyakit yang disebabkan oleh jamur Pityrosporum ovale.

Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan Anava dua arah didapatkan hasil bahwa berbagai konsentrasi infus herba pandan wangi mempengaruhi secara signifikan perbedaan rata-rata diameter zona hambat pityrosporum ovale. Dimana rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 20% adalah sebesar 24.25mm, berbeda dengan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 30% sebesar 27.67mm, berbeda dengan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 40% sebesar 29.07mm, berbeda dengan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 50% adalah sebesar 36.25mm, juga berbeda dengan dan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 60% sebesar 45.72mm, sedangkan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 70% yaitu sebesar 54.53mm, dan pada perlakuan kontrol rata-rata diameter zona hambat yaitu sebesar 7.45mm. Pada perlakuan konsentrasi 70% menghasilkan rata-rata diameter zona hambat terbesar jika dibandingkan dengan perlakuan yang lain maupun perlakuan kontrol. Artinya kemampuan konsentrasi infus herba pandan wangi dalam menghambat jamur Pityrosporum ovale adalah berbeda tergantung besarnya konsentrasi yang digunakan, dimana semakin besar konsentrasi yang digunakan semakin besar juga kemampuan dalam menghambat jamur Pityrosporum ovale.

Pada perlakuan konsentrasi 70% infus herba pandan wangi menghasilkan rata-rata diameter zona hambat terbesar dibandingkan dengan rata-rata diameter zona hambat pada perlakuan dengan konsentrasi 20%, 30%, 40%, 50%, dan 60% maupun perlakuan kontrol. Hal ini dapat dikatakan bahwa perlakuan dengan konsentrasi 70% merupakan perlakuan terbaik dibandingkan dengan perlakuan konsentrasi 20%, 30%, 40%, 50%, dan 60% maupun dibandingkan dengan perlakuan kontrol yaitu dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar 7.45mm. Karena pada konsentrasi infus herba pandan wangi 70% memiliki kandungan zat aktif flavonoid yang lebih besar sehingga kemampuan menghambat jamur Pityrosporum ovale juga lebih tinggi. Tetapi dari berbagai perlakuan konsentrasi yaitu konsentrasi 20%-70% sudah bisa digunakan untuk menghambat jamur Pityrosporum ovale dan besarnya daerah diameter zona hambat lebih besar dari perlakuan kontrol. Pada perlakaun konsentrasi 70% merupakan perlakuan yang terbaik karena diameter zona hambatnya lebih besar dari perlakuan yang lain, tetapi untuk pengaplikasiannya dapat digunakan konsentrasi 20% karena konsentrasi tersebut sudah bisa menghambat jamur Pityrosporum ovale dan dengan konsentrasi 20% diharapkan dengan konsentrasi rendah menghasilkan kemampuan lebih maksimal.

Adanya perbedaan pengaruh yang ditunjukkan dengan perbedaan diameter zona hambat Pityrosporum ovale pada berbagai konsentrasi infus herba pandan wangi dikarenakan besarnya kandungan senyawa aktif yang terdapat pada herba pandan wangi yaitu saponin, alkaloid, serta flavonoid yang merupakan golongan terbesar dari fenol, dimana dalam Jawets (1992), fenol dan persenyawaan dari fenolik merupakan unsur antikuman yang kuat pada konsentrasi yang biasa digunakan (larutan air 1 – 2%), fenol dan derivatnya dapat menimbulkan denaturasi protein, dan fungsi alkaloid sendiri dapat mengurangi infeksi mikroorganisme, saponin diketahui memiliki sifat antimikroba, sedangkan flavonoid mampu merusak membran mikroba (Volk & Wheeler, 1988). Dimana semakin besar konsentrasi yang digunakan dan diikuti dengan kandungan zat aktif yang semakin besar, maka kemampuan fungisidal semakin meningkat.

Kemampuan infus pandan wangi dalam menghambat jamur Pityrosporum ovale dikarenakan dalam tanaman pandan wangi terdapat senyawa aktif yaitu saponin, alkaloid, serta flavonoid yang merupakan golongan terbesar dari fenol, dimana dalam Jawets (1992), fenol dan persenyawaan dari fenolik merupakan unsur antikuman yang kuat pada konsentrasi yang biasa digunakan (larutan air 1 – 2%), fenol dan derivatnya dapat menimbulkan denaturasi protein, dan fungsi alkaloid sendiri dapat mengurangi infeksi mikroorganisme, saponin diketahui memiliki sifat antimikroba, sedangkan flavonoid mampu merusak membran mikroba (Volk & Wheeler, 1988).

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa konsentrasi herba pandan wangi yaitu 20%, 30%, 40%, 50%, 60% dan 70% maupun ketokonazol yang bertindak sebagai kontrol positif mampu menghambat jamur Pityrosporum ovale dan yang paling efektif menghambat jamur Pityrosporum ovale adalah konsentrasi infus herba pandan wangi 70%. Semakin tinggi konsentrasi infus herba Pandanus amaryllifolius Roxb, maka semakin besar pula diameter zona hambat pada jamur Pityrosporum ovale.