Pelajar dan Remaja mempunyai karakteristik ideal yaitu kritis-transpormatif, pro perubahan dimanapun dan kapanpun berada. Karakter intelektual yang mempunyai ciri berfikir dan bertindak secara ilmu-iman-amal, iman-ilmu-amal, amal-ilmu-amal, secara dialektis. Tidak memandang remeh salah satu diantara ketiga dimensi tersebut(ilmu-iman-amal), tetapi memandang ketiganya sebagai suatu satu kesatuanyang saling melengkapi dan harus dimiliki oleh suatu pelajar. Pelajar yang mampu mendialektikan ketiga dimensi itu dalam ranah kehidupannya, dapat kita sebut sebagai intelektual kritis-transpormatif, yaitu pelajar yang tidak hanya pandai berwacana teoritik saja atau, saleh ritual an sich dan kerja-kerja teknis dalam study nya saja, tapi remaja yang mempunyai wacana pemikiran yang radikal(mendalam), juga shaleh sosial dan beramal/berpartisipasi aktif mewujudkan perubahan social, para remaja dan pelajar yang seperti ini yang nantinya mampu menjadi pelopor gerakan kritis-transformatif.
Untuk mewujudkan remaja dan pelajar yang mempunyai cirri intelektual kritis-transformatif, sebagai pelopor gerakan keilmuan, maka pemuda dan pelajar memerlukan sebuah strategi intelektual.
Strategi intelektual ini dapat kita wujudkan dengan berbagai cara, antara lain:
Ø Mentradisikan membaca sebagai aktivitas wajib pelajar dan remaja
Ø Melatih berfikir filosofis atau radikal (mendalam)
Ø Menulis sebagai media untuk menuangkan ide, gagasan, dan pemikiran
Ø Membuat ruang dialektika, diskusi, dan sharing sebagai media berlatih berfikirdan bertindak kritis
Ø Merealisasikan pemikiran dalam sebuah tindakan serta merefleksikannya sebagai langkah untuk menteorisasikan kembali pengalaman-pengalaman lapangan yang diperolehnya.
Dengan menterjemahkan strategi itu baik sebagai aktivitas remaja dan pelajar, maka niscaya tradisi intelektual kritis dilingkungan pelajar dan remaja akan terbangun. Tradisi intelektual kritis inilah yang akan mempercepat terwujudnya gerakan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar