aku merupakan seorang yang selalu pengen UP to Date, dan semua tulisan di blog ini adalah sebagian dari kegiatan q di BIOLOGY EDUCATION

Minggu, 08 Februari 2009

STRATEGI PENINGKATAN MINAT BACA

Ibu, ini ada beberapa tips untuk meningkatkan minat baca anak

1. Bacakan buku untuk anak setiap hari (jadikan kebiasaan).

2. Usahakan buku mudah dilihat dan dijangkau oleh anak

3. Ajak anak ke tempat yang ada di buku

4. Bacakan dengan ekspresi

5. Lakukan dengan kegiatan mendongeng.

1. Perkenalkan anak pada bacaan-bacaan yang ada di sekitar kita

2. Beri kesempatan mengarang

3. Libatkan seluruh anggota keluarga

4. Ajak anak bereksperimen

5. Mulai dengan orangtua membaca

6. Hargai buku, berikan sebagai hadiah

7. Lakukan dengan gembira

Memang agak susah meningkatkan minat baca pada anak kalau orangtua tidak mulai dari diri sendiri. Tapi kebetulan ada satu cara menarik yang dipakai di sekolah untuk meningkatkan minat baca anak. Di sekolah ada yang namanya Reading Campaign. Anak-anak punya kesempatan 2-3 x seminggu untuk pinjam buku dari library, biasanya seharii/dua hari setelah itu anak-anak akan ditanya isi buku yang mereka pinjam. Bentuknya bisa mereka yang diminta untuk mengulang cerita tersebut di depan kelas, ataupun menjawab pertanyaan dari guru seputar isi buku yang dibaca. Bagi yang bisa menjawab atau menceritakan dengan baik, bakal dapat "stamp" di bagian belakang buku harian anak yang memang disediakan untuk Gatatan buku yang sudah dibaca. Di akhir semester nanti ada pengumuman 10 anak pembaca buku terbanyak dan mereka akan dapat hadiah. Terbukti cara ini efektif sekali memancing minat baca anak-anak, semua jadi berlomba membaca untuk mendapatkan sebuah "stamp".

Untuk meningkatkan minat baca, harus dimulai dari usia sangat dini karena minat ini tumbuh sebagai hasil kebiasaan membaca. Peran orangtua, terutama ibu, sangat penting dalam meningkatkan minat baca anak. Kalau biasanya sebelum tidur anak-anak didongengi secara verbal, mulailah sekarang mendongeng dengan membacakan sebuah buku. Jadi si anak melihat sang ibu membaca sambil mendengarkan apa yang dibaca. Kemudian mulai anak diminta membaca sendiri jika ia sudah bisa membaca. Sebagai pembuktian si anak diminta pula mencenitakan kembali apa yang telah dibacanya. Ingat, anak perlu dibatasi waktu bermainnya dengan alternatif membaca buku secara santai.

Juga metode pengajaran di sekolah, dari TK sampai perguruan tinggi, harus diarahkan pada banyak membaca buku untuk mencari lebih hanyak informasi / pengetahuan tentang apa yang diajarkan. Tiap sekolah apa pun jenis, jurusan atau tingkatnya harus mempunyai perpustakaan, karena perpustakaan memberi kesempatan sama kepada semua orang / murid / mahasiswa untuk menggunakan buku-buku koleksinya. Dengan cara ini, upaya meningkatkan minat baca akan sangat terbantu. Pada gilirannya, secara ekonomis sangat meningankan orangtua murid / siswa / mahasiswa yang tidak harus perlu membeli buku sendiri.

Selain itu di tiap kota perlu ada perpustakaan umum yang terbuka untuk seluruh penduduk kota itu. Orang-orang yang sejak di TK sudah dibiasakan membaca, setelah dewasa akan terus membutuhkan bacaan. Orang-orang yang ingin menambah informasi pengetahuan akan tertolong oleh perpustakaan. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya karena buku-buku yang diperlukan telah tersedia di perpustakaan umum.

Membayangkan buku-buku dan perpustakaan umum dalam pikiran kita sungguh menakjubkan! Perpustakaan di Indonesia jika telah tersedia baik di tiap sekolah / perguruan tinggi dan kota tentu banyak buku yang diperlukan untuk mengisi perpustakaan tersebut. Dengan demikian betapa banyak penulis buku, penerbit, dan toko buku yang memproduksi dan mengedarkan buku serta mengisi perpustakaan di seluruh negeri. Dengan demikian lapangan kerja terbuka luas dan berpotensi besar. Yang terutama, adalah tersedianya buku bagi tiap dan semua orang, menjadikan masyarakat makin cerdas dan kreatif. Mereka akan membuka usaha, berani mandiri, bekerja secara profesional, rame ing gawe, mampu bersaing, berdiri tegak diantara bangsa-bangsa. Untuk semua ini suatu program meningkatkan minat baca, mendirikan perpustakaan umum dengan visi dan misi mencerdaskan bangsa, menjadikan negara Indonesia sejajar diantara bangsa-bangsa di dunia.

Upaya merangsang anak-anak agar tumbuh minat baca diperlukan buku-buku yang bersifat menghibur dan sekaligus mendidik. Selain itu, buku dimaksud supaya menarik dilengkapi gambar atau ilustrasi yang bagus termasuk kulit depannya. Belum cukup itu saja, sesuai dengan tahap psikologisnya, anak-anak umumnya lebih menyukai buku cerita. Dengan kriteria seperti itu, maka kios-kios penyewaan buku yang terbesar di beberapa kota kabupaten di Bali selalu ramai dikunjungi. Kabar tersebut cukup menggembirakan karena di kios-kios tersebut tersedia buku-buku sastra seperti komik, novel, cerpen dan jenis cerita rakyat.

Karya sastra seperti novel, cerpen dan jenis prosa lainnya merupakan salah satu media yang tepat untuk membangkitkan minat baca. Sebab, produk-produk sastra itu menyajikan cerita, berbeda halnya dengan buku paket atau buku-buku pelajaran lainnya. Cerita datam karya sastra mengisahkan tokoh-tokoh dalam dunia fiksi yang tidak lepas begitu saja dengan dunia fakta. Karya sastra tersebut mengandung pesan moral, mengembangkan imajinasi dan menawarkan pengalaman baru bagi pembacanya.

Peneliti sastra untuk anak internasional, Riris K. Toha Sarumpaet pernah mengatakan, sastra adalah satu dunia yang menawarkan keutuhan yang dapat mengerakkan jiwa dan rasa, yang dapat mengubah manusia menjadi lebih halus dan peka. Setiap kitab dalam sastra itu, kata dosen sastra Universitas Indonesia itu, menawarkan satu moral. Moral itu terjalin menjadi jiwa cerita, menjadi nafas, ucapan dan perilaku para tokohnya. "Itulah sebabnya, buku yang bernilai sastra selalu dapat memberikan ajaran yang baik yang dapat memperkaya batin manusia," tandas Rids.

Minat baca sedapat mungkin ditumbuhkembangkan sejak usia dini, sejak masa kanak-kanak. Untuk itu sehubungan dengan sastra, maka karya sastra yang dipilih adalah sastra anak-anak. Buku sastra anak-anak sangat mudah didapat seperti dongeng, legenda, mitos dan cerita rakyat lainnya. Cerita dalam karya sastra ini mengalir sedemikian rupa, jauh dari kesan menggurui anak-anak. Berbeda halnya dengan jenis bacaan lain di luar sastra yang terkesan menggurui pembacanya. Anak-anak umumnya, terlebih lagi anak-­anak zaman sekarang, tidak senang dinasihati melulu. Biarkan anak-anak mendapatkan langsung nilai-nilai yang bermutu dalam bacaan.

Sosialisasi gerakan gemar membaca yang begitu gencar dilakukan, sangat jarang menyentuh jenis bacaan. Fokus pembicaraan lebih banyak pada keprihatinan minat baca, upaya-upaya menggatakannya dan rendahnya sumber daya manusia Indonesia akibat malas membaca. Perpustakaan sebagai jantung sekolah jarang dimanfaatkan siswa sebab koteksi buku-buku tidak mengatami perubahan. Demikian keluhan-­keluhan yang sering terungkap dalam sosialisasi gerakan minat baca.

Karya sastra dengan karakteristik isinya yang khas seperti ditegaskan Rids di atas, merupakan wahana yang tepat dalam memulai minat baca. Pembaca diajak larut datam cerita untuk menerawang, menelusuri dan menjelajahi liku-liku alur kehidupan tokoh cerita. Alur cerita seperti itu didukung dengan cerita yang menarik dan gaya bahasa pengarang yang memukau. Ketika membaca sastra, pembaca digerakkan jiwa dan rasanya serta dibangkitkan emosionalnya. Hal-hal seperti itu tidak akan dijumpai dalam bacaan jenis lainnya. Selain itu, kelebihan sastra juga bersifat menghibur. Pembaca tidak cepat merasa bosan dan justru sebaliknya terus termotivasi untuk mengikuti episode cerita berikutnya.

Motivasi tadi merupakan tangkah awal yang positif untuk menggerakkan kemauan membaca. Pembaca sastra didorong terus untuk menuntaskan cerita yang dibaca, sebab kalau berhenti di "tengah jalan", maka pembaca tidak akan mendapat cerita yang utuh. Pembaca sastra digoda, dituntun oleh cerita karena sudah menyatu dengan diri pembaca. Di sinilah letak keunggulan karya sastra dalam rangka menanamkan minat baca agar tumbuh menjadi gemar membaca dan bermuara pada budaya membaca di tengah-tengah masyarakat.

Meningkatkan Minat Baca :

1. Biasakan guru menugaskan siswa untuk sekali seminggu membaca buku, dan menuliskan sinopsis dari buku yang dibacanya. Kemudian dikumpulkan dan diberi nilai oleh guru. Pilih 3 orang yang terbaik, dan tulis di Majalah Dinding Sekolah dengan nama PUTRA & PUTRI BACA KELAS KITA MINGGU, berlanjut bulan ini, sehingga akan memotivasi siswa untuk harus membaca. Kemudian setiap tahun, setiap kenaikan kelas, diumumkan PUTRI & PUTRA BACA SEKOLAH KITA untuk setiap tingkatan kelas, dan berhak untuk mendapatkan hadiah dari Kepala Sekolah.

2. Berlanjut diadakan lomba tingkat Kecamatan, Kabupaten dan berujung di tingkat propinsi setiap tahun di bulan Mei dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, dan Hari Buku Nasional.

3. Biasakan siswa menulis sinopsis, bukan saja akan membuktikan bahwa siswa mengerti tentang apa yang dibacanya, juga akan mendidik siswa untuk menjadi penulis, maka dapat diperkirakan akan lahir penulis-penulis remaja. Apalagi kalau setiap yang terbaik, diminta untuk membacakan sinopsisnya di muka kelas, maka akan lahir orator-orator muda yang berbakat.

4. Biasakan memberi HADIAH BUKU bagi siswa yang berprestasi, atau bagi pemenang PUTRA & PUTRI BACA. ditanda tangani oleh guru atau kepala sekolah, yang akan menapakan kenangan yang tak pernah bisa dilupakan.

5. Hidupkan program Pemberdayaan Perpustakaan Dalam Proses Belajar Mengajar.

Guru memberikan tugas kepada siswanya untuk membaca buku yang berkaitan dengan pelajaran yang akan diberikanya pada keesokan harinya. Misalnya guru akan mengajar Sains dengan tema AIR. Kalau selama ini guru mengajar dengan sistem satu arah, guru bicara, murid mendengar atau mencatat, maka pemberdayaan perpustakaan atau penugasan baca kepada siswa, akan menghadirkan pengajaran dengan sistem dua arah. Guru dan murid akan interaktif, dan berdiskusi. Hal ini mau tak mau guru juga harus membaca, kalau tak mau dikalahkan oleh muridnya.

Sumbangan karya sastra, selain membantu mempercepat gerakan minat baca, juga sastra merupakan media penanaman budi pekerti. Keduanya ini dapat berjalan beriringan datam waktu yang bersamaan, saat masa kanak-kanak.

Melalui tulisan ini diharapkan dapat menjawab seluruh hambatan yang ada, dan menjembatani ketiadaan perpustakaan sekolah, melalui program menghadirkan perpustakaan sekolah secara swadaya siswa.

Apa yang dimaksud dengan Perpustakaan Swadaya Siswa ?

Perpustakaan Swadaya Siswa, adalah sebuah perpustakaan sekolah yang embrionya digerakan oleh siswa dan guru kelas / wali kelas.

Mengapa ?

Gagasan ini lahir dari fakta bahwa belum meratanya perpustakaan sekolah di Indonesia. Pemerintah belum mampu untuk mendanai pengadaan perpustakaan sekolah, baik koleksi bukunya ataupun menghadirkan pengelola perpustakaan.

Bagaimana ? :

Menggerakkan kemauan siswa, orang tua murid dan guru, untuk bergotong royong, demi meningkatkan mutu pendidikan melalui buku perpustakaan sekolah.

Perpustakaan :

1. Perpustakaan adalah sarana bagi masyarakat untuk menambah ilmu pengetahuannya. Perpustakaan Umum adanya hanya di Ibu Kota Propinsi dan Kabupaten / Kota, sementara di Kecamatan atau bahkan di desa dapat dikatakan tidak memiliki perpustakaan. Kalaupun ada sering Perpustakaan Umum letaknya jauh dari rumah pemukiman penduduk.

2. Perpustakaan Sekofah, adalah sarana bagi guru dan murid untuk menambah wawasannya, meningkatkan kualitas belajar dan mengajar.

3. Tidak semua sekolah memiliki Pengelola Perpustakaan, bahkan masih banyak sekolah yang kekurangan tenaga guru, apalagi tenaga pustakawan.

Perubahan senantiasa terjadi di dunia ini. Ia merupakan hukum alam (sunatullah) yang terjadi dalam kehidupan manusia yang merupakan pelaku dari perubahan tersebut. Sebagai pelaku perubahan, manusialah yang menentukan kemana arah perubahan itu akan menuju. Firman Allah dalam AI-Qur'an "... Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada mereka sendiri."

Memasuki era globalisasi, industri telekomunikasi dan informasi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dunia saat ini sudah semakin menyempit, sehingga orang mengumpamakannya sebagai "kampung besar". Futurolog Alvin Tofler mengatakan bahwa menguasai informasi merupakan syarat mutlak suatu bangsa untuk menjadi pemenang di tengah dunia yang dipenuhi oleh deru persaingan. Oleh karena itu mereka yang tidak dapat mengikuti perkembangan tersebut akan semakin jauh tertinggal, sehingga jalan terbaik adalah dengan mengikuti perkembangan tersebut, "The world is changing and the only way to survive is adapting to this change".

Perpustakaan merupakan institusi yang perkembangannya berkaitan erat dengan perkembangan informasi. International Federation of Library Asssociations and Institutions (IFLA) mendefinisikan perpustakaan sebagai kumpulan materi tercetak dan media non cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk digunakan pemakai. Dari definisi ini kita sudah bisa membayangkan bahwa gambaran perpustakaan di masa kini berbeda dengan gambaran perpustakaan masa lalu (tradisional), apalagi di masa depan.

Seiring dengan perkembangan peradaban dan kebudayaaan manusia, perpustakaan juga mengalami perkembangan. Pada mulanya konsep perpustakaan masih sangat sederhana, karena hanya berupa kumpulan ukiran dan gambar yang dipahatkan pada dinding, tablet atau papyrus, kemudian mulai dipakainya kulit binatang (parchmen) sebagai bahan tulis dan ditemukannya kertas yang membuat perkembangan buku sebagai media penyimpanan informasi menjadi koleksi utama perpustakaan.

Dengan perkembangan teknologi informasi, maka koleksi perpustakaan tidak hanya dalam bentuk buku saja, tetapi juga dalam bentuk kaset audio, compact disc dan file-file digital yang merupakan produk dari teknologi informasi. Meskipun demikian, keberadaan buku masih dipertahankan, karena buku berkaitan erat dengan budaya / minat baca masyarakat, disamping adanya keasyikan tersendiri bagi banyak orang untuk menikmati buku seperti halnya keberadaan makanan tradisional yang tetap lestari

Saat ini, perkembangan teknologi informasi telah memberikan dampak yang sangat luas terhadap dunia perpustakaan. Sejalan dengan semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi (ICT : Information and Communication Technology), Perpustakaan juga terus mengalami perkembangan dari bentuk perpustakaan tradisional yang koleksinya hanya berwujud buku, berkembang menjadi perpustakaan modem yang mulai mengunakan bantuan komputer (sebagai salah satu hal yang penting dalam teknologi informasi) dalam pelayanannya, sehingga kemudian muncul istilah perpustakan digital (Digital library) dimana koleksinya tidak hanya dalam bentuk buku (baca: kertas) tetapi juga dalam bentuk file-file digital.

Dalam perkembangan terkini, muncul istilah perpustakaan maya (virtual library) dimana koleksinya dikemas dalam bentuk digital (e-document) yang dapat diakses melalui internet (International Network) yang merupakan jaringan kerjasama global yang menyatukan jaringan jaringan komputer lokal yang saling berhubungan satu dengan yang lain, sehingga tanpa harus pergi ke Amerika misalnya, kita dapat dengan bebas mengakses koleksi Perpustakaan Library of Conggres, atau mengakses jurnal ilmiah untuk mencari artikel yang kita inginkan, alangkah menyenangkan bukan?

Melihat arah kecenderungan perkembangan perpustakaan yang seperti itu, maka perpustakaan masa depan haruslah menyediakan berbagai fasilitas dan perangkat teknologi yang lengkap agar tetap dapat survive, disamping didukung oleh SDM perpustakaan (baca: pustakawan) yang berkualitas.

Berkaitan dengan penyediaan SDM perpustakaan tersebut, maka seyogyanya setiap lembaga/institusi pendidikan perpustakaan dan informasi menjadikan kemampuan dalam teknologi informasi menjadi kualifikasi standar dari peserta didiknya. Dengan kata lain teknologi informasi harus menjadi kurikulum utama dalam pendidikan calon-calon pengelola perpustakaan di masa depan, lalu "Sudah siapkah institusi/lembaga pendidikan perpustakaan dan informasi mengantisipasi hal ini ?

Wallahu alam.

Sekjen Ikapi DKI Jakarta itu tidak menyangkal kalau harga buku saat ini jauh di atas daya beli masyarakat rata-rata. Untuk itu, solusinya memperbanyak jumlah perpustakaan dan taman bacaan. "Supaya masyarakat yang kurang mampu dapat membaca buku tanpa keluar uang," papar Harahap.

Tidak ada komentar: