Rambut adalah mahkota bagi wanita, itulah ungkapan yang sering kita dengar untuk melukiskan betapa pentingnya memiliki rambut yang sehat. Namun tidak mudah memiliki rambut indah dan sehat karena seringkali rambut bermasalah. Dengan adanya masalah pada rambut mengakibatkan terganggunya berbagai aktivitas, karena kepala terasa pusing. Seperti halnya penyakit ketombe (Dermatitis seboroika). Menurut Harahap (2000), di Jakarta golongan penyakit ini sepanjang masa selalu menempati urutan kedua setelah dermatitis. Di daerah yang lain, seperti Padang, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Menado, keadaannya kurang lebih sama, yakni menempati urutan ke-2 sampai ke-4 terbanyak dibandingkan golongan penyakit yang lainnya.
Ketombe atau dandruff, adalah kelainan kulit kepala yang ditandai dengan banyaknya timbul sisik putih kasar pada kulit kepala, juga pada rambut. Kelainan kulit ini termasuk penyakit dermatitis seboroika, yaitu jenis penyakit kulit yang khusus mengenai daerah yang banyak mengandung kelenjar minyak. Hanya, reaksi peradangan pada ketombe tidak begitu jelas. Baru setelah dilihat di bawah mikroskop, akan tampak kelainan struktur jaringan kulit kepala.
Berbagai kondisi dapat memudahkan seseorang berketombe, seperti jamur kulit yang cepat (hiperproliferasi epidermis), gangguan hormonal, kelainan sistem syaraf, beban psikologis, iklim tropis dengan kelembaban tinggi, ketidakseimbangan nutrisi, serta keaktifan kelenjar minyak. Namun beberapa studi menunjukkan bahwa pada dermatitis seboroika, kadar minyak pada kulit kepala tidak bertambah, hanya komposisinya saja yang berubah, seperti adanya pengaruh komposisi lemak kulit yang lebih banyak mengandung kolesterol. Jadi, ketombe tidak identik dengan kulit kepala berminyak.
Berdasarkan penelitian, gangguan sistem kekebalan tubuh pun dapat menimbulkan ketombe. Karenanya 80% pengidap AIDS, juga menderita ketombe. Ternyata ditemukan juga sejenis mikroba yang menjadi penyebab ketombe, yaitu sejenis jamur Pityrosporum ovale, Malassezia sp. Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab ketombe ini, diharapkan gangguan ketombe dapat diobati dengan tepat (Anonymous, 2004).
Menurut (Anonymous, 2004), penelitian terakhir menyebutkan bahwa 90 persen ketombe disebabkan oleh jamur. Dalam dunia kedokteran jamur ini dinamakan pityrosperum ovale. Biasanya obat yang diberikan pada penderita Dermatitis seboroika adalah obat-obatan jenis asam salisil, sulfur, selenium sulfid, kortikosteroid, dan ketokonazol (Harahap, 2000).
Penyakit infeksi dapat ditanggulangi dengan menggunakan obat diantaranya dengan pengobatan antibiotika. Pada zaman dahulu masyarakat belum mengenal bahan pengobatan modern. Pengobatan bergantung pada berbagai bahan yang diperoleh di sekitar rumah. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan khususnya ilmu kedokteran dan farmasi, kebiasaan yang dahulu mereka lakukan sedikit demi sedikit mereka tinggalkan dan beralih dengan penggunaan obat-obat sintetis. Akhir-akhir ini masyarakat mulai menyadari tentang dampak penggunaan obat-obat modern terhadap kesehatan terutama apabila digunakan secara terus menerus. Apalagi semakin mahalnya harga obat-obat sintesis. Karena itu masyarakat mulai kembali lagi kepada pengobatan tradisional (Backer, 1963).
Salah satu alternatif produk alami yang dapat digunakan sebagai obat mengatasi ketombe adalah daun pandan wangi. Produk dari daun pandan wangi ini dapat dibuat dengan memebuat membut juice daun pandan wangi hingga menghasilkan sari perasan atau infus. Kemudian infus tersebut di injeksiksn ke kepala, seperti orang yang pakai sampo.
Dimana pada penelitian ini herba pandan wangi dibedakan atau dipisahkan antara bagian batang, bagian akar dan bagian daun. Kemudian masing-masing bagian tersebut dijuicer hingga menghasilkan sari perasan atau infus. Infus hasil juice lalu diencerkan sesuai konsentrasi yang diinginkan. Setelah itu kertas cakram diambil dengan pinset steril dan diletakkan pada Medium Agar Dektrosa Sabourad yang sudah digoreskan jamur Pityrosporum ovale dan ditetesi infus dengan menggunakan mikropipet hingga mengenai seluruh kertas cakram. Kemudian diletakkan dalam inkubator selama 24 jam dengan suhu 37ÂșC.
Berdasarkan hasil penelitian efek berbagai konsentrasi infus herba pandan wangi (Pandanus amaryllifolius roxb.) terhadap jamur Pityrosporum ovale secara in vitro Setelah data diperoleh (tabel 1) selanjutnya data dianalisis dengan uji normalitas (uji liliefors). Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah datanya berdistribusi normal atau tidak. Adapun hasil uji normalitas diameter zona hambat pityrosporum ovale, berdasarkan hasil uji tersebut diketahui bahwa data yang diperoleh adalah berdistribusi normal yaitu dengan melihat Lhitung (0,144) < Ltabel (0,167) pada taraf signifikansi 1% sehingga Ho diterima.
Setelah penyebaran data normal, maka analisis data dilanjutkan dengan uji homogenitas. Uji homogenitas bertujuan mengetahui apakah varian datanya homogen atau tidak. Hasil analisis uji homogenitas terlihat, data mempunyai varian yang sama atau homogen. Hal ini dapat dilihat dari X2tekoreksi (24.316) < X2tabel (34.8) pada taraf signifikansi 1% dengan derajat v = 18 sehingga Ho diterima yang artinya bahwa varian data yang diperoleh adalah homogen.
Setelah data yang diperoleh sudah berdistribusi normal dan varian data juga sudah homogen, maka data dilanjutkan dengan uji anava dua arah dengan taraf signifikansi 1%. Dari analisis varian 2 jalur pada tabel 2 dapat disimpulkan bahwa pada faktor herba pandan wangi nilai Fhitung < Ftabel maka Ho diterima dan Hi ditolak, artinya pada faktor tunggal herba pandan wangi tidak mempengaruhi secara signifikan perbedaan rata-rata diameter zona hambat. Pada faktor konsentrasi infus herba pandan wangi nilai Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak dan Hi diterima, artinya pada faktor tunggal konsentrasi herba pandan wangi mempengaruhi secara signifikan perbedaan rata-rata diameter zona hambat. Sedangkan interaksi faktor kombinasi antara berbagai konsentrasi infus herba pandan wangi nilai Fhitung < Ftabel maka Ho diterima dan Hi ditolak, bila pada faktor kombinasi antara berbagai konsentrasi infus herba pandan wangi tidak mempengaruhi secara signifikan perbedaan rata-rata diameter zona hambat.
Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan diameter zona hambat pada masing-masing konsentrasi infus herba pandan wangi, maka analisis dilanjutkan dengan uji Duncan’s. Pada uji Duncan’s berbagai konsentrasi infus herba pandan wangi yang baik pengaruhnya terhadap diameter zona hambat Pityrosporum ovale terdapat pada perlakuan konsentrasi 20%-70% karena berbeda dengan perlakuan kontrol. Sehingga perlakuan konsentrasi 20% sudah bisa digunakan untuk pengobatan penyakit yang disebabkan oleh jamur Pityrosporum ovale.
Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan Anava dua arah didapatkan hasil bahwa berbagai konsentrasi infus herba pandan wangi mempengaruhi secara signifikan perbedaan rata-rata diameter zona hambat pityrosporum ovale. Dimana rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 20% adalah sebesar 24.25mm, berbeda dengan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 30% sebesar 27.67mm, berbeda dengan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 40% sebesar 29.07mm, berbeda dengan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 50% adalah sebesar 36.25mm, juga berbeda dengan dan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 60% sebesar 45.72mm, sedangkan rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi 70% yaitu sebesar 54.53mm, dan pada perlakuan kontrol rata-rata diameter zona hambat yaitu sebesar 7.45mm. Pada perlakuan konsentrasi 70% menghasilkan rata-rata diameter zona hambat terbesar jika dibandingkan dengan perlakuan yang lain maupun perlakuan kontrol. Artinya kemampuan konsentrasi infus herba pandan wangi dalam menghambat jamur Pityrosporum ovale adalah berbeda tergantung besarnya konsentrasi yang digunakan, dimana semakin besar konsentrasi yang digunakan semakin besar juga kemampuan dalam menghambat jamur Pityrosporum ovale.
Pada perlakuan konsentrasi 70% infus herba pandan wangi menghasilkan rata-rata diameter zona hambat terbesar dibandingkan dengan rata-rata diameter zona hambat pada perlakuan dengan konsentrasi 20%, 30%, 40%, 50%, dan 60% maupun perlakuan kontrol. Hal ini dapat dikatakan bahwa perlakuan dengan konsentrasi 70% merupakan perlakuan terbaik dibandingkan dengan perlakuan konsentrasi 20%, 30%, 40%, 50%, dan 60% maupun dibandingkan dengan perlakuan kontrol yaitu dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar 7.45mm. Karena pada konsentrasi infus herba pandan wangi 70% memiliki kandungan zat aktif flavonoid yang lebih besar sehingga kemampuan menghambat jamur Pityrosporum ovale juga lebih tinggi. Tetapi dari berbagai perlakuan konsentrasi yaitu konsentrasi 20%-70% sudah bisa digunakan untuk menghambat jamur Pityrosporum ovale dan besarnya daerah diameter zona hambat lebih besar dari perlakuan kontrol. Pada perlakaun konsentrasi 70% merupakan perlakuan yang terbaik karena diameter zona hambatnya lebih besar dari perlakuan yang lain, tetapi untuk pengaplikasiannya dapat digunakan konsentrasi 20% karena konsentrasi tersebut sudah bisa menghambat jamur Pityrosporum ovale dan dengan konsentrasi 20% diharapkan dengan konsentrasi rendah menghasilkan kemampuan lebih maksimal.
Adanya perbedaan pengaruh yang ditunjukkan dengan perbedaan diameter zona hambat Pityrosporum ovale pada berbagai konsentrasi infus herba pandan wangi dikarenakan besarnya kandungan senyawa aktif yang terdapat pada herba pandan wangi yaitu saponin, alkaloid, serta flavonoid yang merupakan golongan terbesar dari fenol, dimana dalam Jawets (1992), fenol dan persenyawaan dari fenolik merupakan unsur antikuman yang kuat pada konsentrasi yang biasa digunakan (larutan air 1 – 2%), fenol dan derivatnya dapat menimbulkan denaturasi protein, dan fungsi alkaloid sendiri dapat mengurangi infeksi mikroorganisme, saponin diketahui memiliki sifat antimikroba, sedangkan flavonoid mampu merusak membran mikroba (Volk & Wheeler, 1988). Dimana semakin besar konsentrasi yang digunakan dan diikuti dengan kandungan zat aktif yang semakin besar, maka kemampuan fungisidal semakin meningkat.
Kemampuan infus pandan wangi dalam menghambat jamur Pityrosporum ovale dikarenakan dalam tanaman pandan wangi terdapat senyawa aktif yaitu saponin, alkaloid, serta flavonoid yang merupakan golongan terbesar dari fenol, dimana dalam Jawets (1992), fenol dan persenyawaan dari fenolik merupakan unsur antikuman yang kuat pada konsentrasi yang biasa digunakan (larutan air 1 – 2%), fenol dan derivatnya dapat menimbulkan denaturasi protein, dan fungsi alkaloid sendiri dapat mengurangi infeksi mikroorganisme, saponin diketahui memiliki sifat antimikroba, sedangkan flavonoid mampu merusak membran mikroba (Volk & Wheeler, 1988).
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa konsentrasi herba pandan wangi yaitu 20%, 30%, 40%, 50%, 60% dan 70% maupun ketokonazol yang bertindak sebagai kontrol positif mampu menghambat jamur Pityrosporum ovale dan yang paling efektif menghambat jamur Pityrosporum ovale adalah konsentrasi infus herba pandan wangi 70%. Semakin tinggi konsentrasi infus herba Pandanus amaryllifolius Roxb, maka semakin besar pula diameter zona hambat pada jamur Pityrosporum ovale.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar