aku merupakan seorang yang selalu pengen UP to Date, dan semua tulisan di blog ini adalah sebagian dari kegiatan q di BIOLOGY EDUCATION

Minggu, 08 Februari 2009

BUDAYA BACA YANG SULIT TERCIPTA DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Pentingnya Minat Baca

Marilah kawan kita membaca.

Membaca, menambah pengetahuan.

Marilah kita membaca,

Membaca, mengena/ kehidupan.

Buku-buku, adalah GURU.

Yang mengajar penuh kesabaran.

Buku-buku, adalah teman.

Yang menuntun dalam kehidupan.

Buku adalah GUDANG ILMU.

MEMBACA … KUNCINYA.,

Membaca tulisan di atas memang benar. Buku, adalah gudang ilmu. Buku, adalah guru, dan hanya dengan membaca kita dapat meraihnya. Tetapi, adalah sebuah kenyataan pahit yang harus kita hadapi, minat baca yang justru masih belum membudaya.

Secara langsung maupun tidak langsung kebiasaan membaca menjadi salah satu indikator kualitas bangsa. Angka melek huruf (literacy rate) di Indonesia relatif belum tinggi, yaitu 88 persen. Di negara maju seperti Jepang angkanya sudah mencapai 99 persen. Sebagian dari penduduk yang tidak memiliki kebiasan membaca secara memadai sangat berpotensi untuk mengurangi angka melek huruf tersebut.

Oleh UNDP, United Nations Development Programme, angka melek huruf telah dijadikan salah satu indikator untuk mengukur kualitas bangsa. Tinggi rendahnya angka melek huruf menentukan tinggi rendahnyaa indeks pembangunan manusia atau HDI, human development index; dan tinggi rendahnya HDI menentukan kualitas bangsa.

Dalam publikasi UNDP yang terakhir, "Human Development Report 2003" (2003), Indonesia ditempatkan di peringkat 112 dari 174 negara dalam hal kualitas bangsa. Di dalam daftar ini Indonesia di bawah Vietnam (109), Thailand (74), Malaysia (58), dan Brunei Darussalam (31). Jelas sekali bahwa kualitas bangsa Indonesia masih belum maksimal dan lebih rendah dibanding bangsa Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Brunei. Belum maksimalnya kualitas bangsa ini antara lain disebabkan belum maksimalnya angka melek huruf kita.

Apabila dirunut minat baca itu sangat berkait dengan kualitas bangsa. Pada satu sisi rendahnya kebiasaan dan kemampuan membaca masyarakat kita disebabkan rendahnya minat baca, di sisi lain rendahnya kebiasaan dan kemampuan membaca tidak mengondisikan kedalaman pengetahuan dan keluasan wawasan. Di samping itu, rendahnya kebiasaan dan kemampuan membaca berpotensi menurunkan angka melek huruf yang secara langsung menentukan kualitas bangsa.

Jadi, kalau bangsa ini mau maju dan lebih berkualitas maka harus ada upaya-upaya yang lebih konkret baik dari pemerintah maupun masyarakat untuk mendongkrak minat baca masyarakat. Meskipun hal ini sangat tidak mudah akan tetapi harus dilakukan.

Mereka yang mempunyai kemampuan literasi (melek huruf secara fungsional), berkesempatan mencari dan memperoleh informasi yang memungkinkan mereka mengembangkan usaha: misalnya soal produk apa yang sedang dicari orang mencari celah-celah pasar baru; dan sebagainya. Komunikasi dengan rekanan bisnis jadi efektif dan hemat, terbukanya kesempatan mengikuti kursus atau pelatihan untuk meningkatkan kapasitas. Termasuk lincah menciptakan lowongan kerja bagi dirinya sendiri. Contoh paling nyata, mudah dan sederhana untuk menjelaskan hubungan antara minat baca dengan kesejahteraan ekonomi (baca: penghasilan naik), adalah seperti yang telah saya tulis di awal : Kuadi, penarik becak yang mahir mendalang.

Banyak sekali realita yang ada dalam masalah membaca, dan ada suatu hadis yang umum pada masyarakat yang menyangkut masalah bahan bacaan dan kegiatan yang nimbrung dan ribet pada kendala-kendala membaca. Baca oke, beli nanti dulu! Ungkapan ini sangat tepat menggambarkan bagaimana kondisi masyarakat Indonesia saat ini terhadap buku. Minat baca atau kebiasaan membaca buku dari masyarakat di Indonesia, terutama masyarakat di perkotaan, tidaklah seburuk yang selama ini banyak dibicarakan orang. Hanya saja besarnya minat baca masyarakat ini belum diimbangi dengan tingkat konsumsi mereka, terutama dalam membeli buku.

Berbicara mengenai jenis buku yang paling diminati oleh responden, jajak pendapat ini mengungkap bahwa sebagian besar responden umumnya lebih menyukai buku-buku fiksi, seperti novel dan buku sastra lainnya. Selain buku-buku fiksi, urutan selanjutnya adalah buku agama dan buku ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Menyusul kemudian komik, buku-buku panduan (how to), dan buku-buku nonfiksi lainnya, seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Idealnya, tingginya minat baca ini akan memengaruhi minat orang untuk membeli buku. Namun, tampaknya hal itu belum sepenuhnya terjadi. Persentase responden yang mempunyai kebiasaan membeli buku atau responden yang secara rutin membeli buku paling tidak satu buku tiap bulannya ternyata tidak setinggi persentase minat bacanya. Responden yang mempunyai kebiasaan membeli buku minimal satu buku per bulan hanya sekitar separo bagian dari seluruh responden. Selain itu, dilihat dari jumlah buku yang dibeli pun relatif minim. Sebagian besar responden rata-rata hanya membeli satu-dua buku setiap bulannya.

Minimnya jumlah buku yang dibeli oleh responden ini salah satunya disebabkan sebagian besar (88 persen) responden umumnya tidak mengalokasikan dana khusus untuk membeli buku. Sementara itu, mereka yang sudah punya anggaran khusus untuk membeli buku pun jumlah dana yang mereka alokasikan relatif kecil, yakni kurang dari Rp 100.000 per bulan yang setara dengan harga 2-3 buku produk penerbit lokal. Jadi, bisa dikatakan bahwa membeli buku belum menjadi sebuah kebutuhan bagi sebagian besar responden.

Selain jarang membeli buku, berkunjung ke toko buku pun tak banyak dilakukan responden. Dalam jajak pendapat ini, sekitar 28 persen responden punya kebiasaan pergi ke toko buku dengan intensitas paling tidak sekali dalam seminggu. Persentase responden yang rutin ke toko buku sebulan sekali sebanyak 27 persen dan mereka yang sangat jarang atau hampir tidak pernah berkunjung ke toko buku juga berjumlah sekitar 27 persen.

Tak hanya jarang ke toko buku, sebagian besar responden ternyata juga tidak melakukan kegiatan yang banyak dilakukan penggemar atau pencinta buku, seperti berkunjung ke pameran buku atau menjadi anggota perpustakaan. Untuk keanggotaan di perpustakaan, misalnya, mayoritas responden (77 persen) tidak tercatat sebagai anggota di satu perpustakaan pun. Jadi, responden yang menjadi anggota perpustakaan hanya kurang dari 15 persen, itu pun kebanyakan dari mereka tercatat sebagai pelajar atau mahasiswa.

Kebanyakan atau bahkan hampir keseluruhan SD kita yang jumlahnya sekira 155 ribu tidak memiliki fasilitas perpustakaan yang memadai. Buku pelajaran dan buku bacaan umum tidak terkoleksi secara lengkap. Bahkan, banyak SD yang tidak memiliki ruang khusus untuk perpustakaan dan tidak memiliki petugas khusus yang mengelola perpustakaan. Dengan demikian, wajar saja kalau siswa SD kita tidak memiliki kebiasaan membaca yang memadai.

Keadaan seperti itu ternyata juga terjadi pada siswa SLTP, SMU, dan SMK. Dan yang sangat ironis, tidak dimilikinya kebiasaan membaca yang memadai tersebut juga terjadi di kalangan perguruan tinggi, baik dosen maupun mahasiswanya. Beberapa perguruan tinggi kita memang memiliki perpustakaan dengan koleksi buku, jurnal, majalah ilmiah, dan terbitan lain dalam jumlah yang cukup, namun kebanyakan dari perguruan tinggi tidak memiliki fasilitas seperti itu. Kebanyakan mahasiswa dan dosen perguruan tinggi tidak memunyai kebiasaan berkunjung ke perpustakaan kampus, apalagi perpustakaan di luar kampusnya.

Kebiasaan membaca pada masyarakat umum juga rendah. Salah satu indikatornya adalah jumlah surat kabar yang dikonsumsi oleh masyarakat. ldealnya setiap surat kabar dikonsumsi sepuluh orang, tetapi di Indonesia angkanya 1 : 45; artinya setiap 45 orang mengonsumsi satu surat kabar. Di Filipina angkanya 1 : 30 dan di Sri Lanka angkanya 1:38. Artinya dalam soal membaca, masyarakat kita kalah dibandingkan dengan masyarakat negara berkembang lainnya seperti Filipina dan bahkan dengan masyarakat negara belum maju seperti Sri Lanka.

Indikator lainnya adalah rendahnya pengunjung perpustakaan. Kepala Perpustakaan Nasional, Dady P. Rachmanata, dalam kegiatan Hari Aksara Nasional (HAN) beberapa waktu lalu menyampaikan infonnasi mengenai rendahnya pengunjung perpustakaan nasional dan perpustakaan daerah di seluruh Indonesia. Dari pengunjung yang ada hanya 10 s.d. 20 persen yang meminjam buku dan kalau diasumsikan kebiasaan membaca itu ada pada mereka yang meminjam buku maka tingkat kebiasaan membaca kita baru 10 s.d. 20 persen. Padahal, di negara maju angkanya mencapai 80 persen.

Terlepas dari ketepatan kebijakan pendinian rumah baca, tujuan untuk mendongkrak minat baca masyarakat memang positif. Hal ini didukung realitas tentang rendahnya minat baca masyarakat kita pada umumnya dan siswa sekolah kita pada khususnya.

Secara teoritis ada hubungan yang positif antara minat baca (reading interest) dengan kebiasaan membaca (reading habit) dan kemampuan membaca (reading ability). Rendahnya minat baca masyarakat menjadikan kebiasaan membaca yang rendah, dan kebiasaan membaca yang rendah ini menjadikan kemampuan membaca rendah. Itulah yang sedang terjadi pada masyarakat kita sekarang ini.

World Bank di dalam salah satu laporan pendidikannya, "Education in Indonesia - From Crisis to Recovery" (1998) melukiskan begitu rendahnya kemampuan membaca anak-anak Indonesia. Dengan mengutip hasil studi dari Vincent Greanary, dilukiskan siswa-siswa kelas enam SD Indonesia dengan nilai 51,7 berada di urutan paling akhir setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0) dan Hongkong (75,5). Artinya, kemampuan membaca siswa kita memang paling buruk dibandingkan siswa dari negara-negara lainnya.

Keadaan tersebut mengingatkan hasil penelitian yang saya lakukan di desa-desa wilayah Sulawesi Selatan, seperti di daerah Galesong, Bantaeng, Tamalatea, Bisapu, dsb., beberapa waktu lalu. Dari sekira 2.000 kasus ada 30-an atau 1,5 persen anak lulusan SD yang tidak lancar membaca. Pada mulanya kami terkejut, surprise, apa benar anak lulusan SD belum lancar membaca? Setelah diteliti proses beserta metodenya, termasuk pengetesan membaca dengan 250 kata, ternyata memang begitulah senyatanya. Artinya, benar-benar ada anak lulusan SD yang belum lancar membaca karena kemampuan membacanya memang rendah.

Minat baca masyarakat Indonesia masih terbilang sangat rendah. Hal itu ditunjukkan dengan konsumsi satu surat kabar untuk 45 orang (1 : 45). Apalagi di Jawa Barat, jumlah masyarakat buta huruf mencapai 1,8 juta orang dan Provinsi Banten 1,4 juta dari 8 juta warganya.

"Indonesia sudah tertinggal jauh dengan negara-negara lain, bahkan negara tetangga seperti Srilangka sudah 1 : 38 dan Filipina 1 : 30. Idealnya satu surat kabar dibaca oleh 10 orang atau 1 : 10," kata Direktur Utama "Pikiran Rakyat" Bandung (PRB), H. Syafik Umar, saat membuka "Pelatihan Jurnalistik dan Manajemen Media" di Aula PR Jln. Soekarno Hatta 147, Minggu (7/3).

Syafik juga mengungkapkan, jam bermain anak-anak Indonesia masih tinggi, yakni lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton acara TV. "Di AS, jumlah jam bermain anak-anak antara 3 – 4 jam per hari. Bahkan di Korea dan Vietnam, jam bermain anak-anak sehari hanya satu jam. Selebihnya anak-anak menghabiskan waktu untuk belajar atau membaca buku, sehingga tak heran budaya baca sudah sedemikian tinggi,” ujar Syafik Umar, didampingi Pemred I “PR” H. Yoyo S. Adiredja.

Masih rendahnya perhatian sebagian besar responden terhadap buku makin terlihat dalam keanggotaan mereka di klub-klub buku dan minimnya jumlah responden yang memiliki perpustakaan pribadi. Keikutsertaan responden dalam klub buku masih sangat rendah. Hanya sekitar 10 persen responden yang menjadi anggota klub buku, itu pun tidak semua tergolong aktif lantaran hanya lebih kurang 3 persen yang tergolong intens mengikutinya. Sementara itu, responden yang memiliki perpustakaan pribadi hanya sebesar 14 persen, dengan jumlah koleksi buku yang dimiliki rata-rata 100 buku.

Dari paparan di atas terlihat bahwa kendati lebih dari dua per tiga responden mengaku memiliki kebiasaan membaca buku, kenyataannya sebagian besar dari mereka belum menjadikan buku sebagai suatu kebutuhan atau bagian dari hidup mereka sehari-hari. Oleh karena itu, bisa dimaklumi apabila sebagian besar responden masih belum mau menyisihkan uang, waktu, maupun perhatian yang lebih demi buku. Namun, dari berbagai perilaku masyarakat di atas, tidak dapat ditampik pula bahwa kebiasaan membaca buku ini masih sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan responden. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi pula kebiasaan membacanya. Jajak pendapat ini mengungkap bahwa mayoritas (lebih dari 70 persen) responden yang tingkat pendidikannya menengah sampai tinggi umumnya memiliki kebiasaan membaca buku secara rutin. Sementara mereka yang berpendidikan rendah justru sebaliknya, yakni sebagian besar tidak punya kebiasaan membaca buku.

Faktor yang mempengaruhi Minat Baca

Ø Enam Penyebab Rendahnya Minat Baca

Namun, topik ini tetap menarik dan aktual. Mengapa? Karena setelah begitu banyak ditulis dan dibicarakan masih saja belum tampak peningkatan minat baca yang signifikan. Indikator rendahnya minat baca adalah dihitung dari jumlah buku yang diterbitkan yang memang masih jauh di bawah penerbitan buku di Malaysia, Singapura, apalagi India, atau negeri-negeri maju lainnya. Negara disebut maju karena rakyatnya suka membaca. Ini dibuktikan dari jumlah buku yang diterbitkan dan jumlah perpustakaan yang ada di negeri itu.

Mengapa orang-orang (baik anak-anak maupun orang dewasa) Indonesia kurang berminat membaca? Padahal jika dicermati sejenak penerbitan majalah dan koran, dalam sepuluh tahun terakhir jumlah nama/judulnya sangat meningkat. Mestinya ini berarti makin banyak orang berminat membaca. Tetapi sayang, minat ini hanya terbatas pada membaca koran dan majalah. Sedangkan minat baca yang dimaksud tentunya juga membaca buku yang memuat pengetahuan yang menyebabkan masyarakat suatu negeri memiliki penduduk yang cerdas mampu bersaing setaraf dengan masyarakat negeri lain di bidang apa saja di dunia internasional. Mengapa minat baca di Indonesia dikatakan rendah? Ada banyak teorinya. Pertama, sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak / siswa / mahasiswa harus membaca buku (lebih banyak lebih baik), mencari informasi / pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, mengapresiasi karya-karya ilmiah, filsafat, sastra dsb. Kedua, banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku, surfing di internet walaupun yang terakhir ini masih dapat dimasukkan sebagai sarana membaca. Hanya saja apa yang dapat dilihat di internet bukan hanya tulisan tetapi hal-hal visual lainnya yang kadangkala kurang tepat bagi konsumsi anak-anak. Ketiga, banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket. Keempat, budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Kita terbiasa mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orangtua, tokoh masyarakat, penguasa pada zaman dulu. Anak-anak didongengi secara lisan, diajar membuat banten dengan melihat cara memotong janur, menata buah-buahan dan lain-lain sajian. Tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis. Jadi tidak terbiasa mencapai pengetahuan melalui bacaan. Kelima, para ibu, saudari-saudari kita senantiasa disibukkan berbagai kegiatan upacara-upacara keagamaan serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga, belum lagi harus memberi makan hewan peliharaan seperti babi, bebek, ayam (lebih-lebih kaum wanita di desa) sehingga tiap hari waktu luang sangat minim bahkan hampir tidak ada untuk membantu anak membaca buku. Keenam, sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka.

Minat Baca :

Berbicara tentang minat baca masyarakat, terdapat beberapa analisa :

1. Membaca belum menjadi budaya. Kebiasaan membaca harus ditumbuhkan sejak dini dalam keluarga. Menghadirkan sudut baca keluarga, adalah salah satu cara untuk meningkatkan minat baca agar tumbuh budaya baca.

2. Harga buku masih dianggap mahal, dan tidak adanya Toko Buku, menjadi alasan lain dari rendahnya minat baca masyarakat. Sementara pendapatan masyarakat yang masih minim, telah membuat buku belum menjadi kebutuhan pokok masyarakat (bahan pokok yang ke sepuluh).

3. Membaca, tidak termasuk dalam kurikulum, atau dalam kegiatan belajar mengajar. Perlu ditumbuhkan program Pemberdayaan Perpustakaan dalam proses belajar mengajar.

Dengan berbagai kondisi di atas tadi, maka perlu dicarikan solusi agar dapat meningkatkan minat baca siswa, dan meningkatkan kualitas pendidikan melalui perpustakaan. Hal itu dapat dilakukan, sebagai berikut :

Budaya baca, memang benar yang terbaik adalah sedini mungkin dibiasakan di keluarga, namun adalah sebuah fakta masyarakat kita terutama yang di pedesaan belum merasakan pentingnya arti membaca. Oleh sebab itu sekolah adalah satu-satunya harapan untuk mengawali kebiasaan membaca, melalui hadirnya PERPUSTAKAAN SEKOLAH.

Sementara itu tidak semua sekolah memiliki perpustakaan. Kalaupun ada, maka dapat dipastikan koleksinya sudah sangat ketinggalan zaman. Hal itu disebabkan oleh berbagai kendala, antara lain :

1. Tidak mempunyai ruangan / kelas untuk dijadikan ruang perpustakaan sekolah.

2. Tidak mempunyai orang / pustakawan / guru yang bisa mengelola perpustakaan sekolah.

3. Tidak mempunyai dana baik untuk membeli buku / koleksi perpustakaan, ataupun untuk membiayai pengelolaan perpustakaan.

4. Tidak ada Toko Buku di daerahnya, sehingga tidak tahu kemana harus membeli buku, terutama mereka yang berada di kecamatan / desa.

5. Tidak ada informasi buku / brosur buku, yang memberikan berita tentang keberadaan buku baru, dan lain sebagainya.

Gerakan minat baca akan bersinggungan langsung dengan buku-buku dan perpustakaan. Kedua faktor sebagai pemegang kunci dalam meningkatkan minat baca ini selatu dituding sebagai penyebab rendahnya minat baca siswa. Buku terbatas, harga mahal. Ruang perpustakaan sumpek sehingga kurang menarik untuk dikunjungi. Untuk perpustakaan sekolah, buku-buku yang tersedia umumnya buku-buku teks, buku paket atau buku-buku pelajaran yang didrop dari pusat.

Di sisi lain, minat yang rendah terhadap kegiatan yang berkaitan dengan buku pun semakin diperkuat oleh rendahnya keinginan mereka untuk mengikuti pameran buku di kota-kota tempat mereka tinggal. Bahkan, berbagai pameran buku yang biasanya menawarkan berbagai macam buku dengan harga diskon pun ternyata belum menarik minat banyak responden untuk datang. Dalam jajak pendapat ini, lebih dari 48 persen responden bahkan menyatakan belum pernah mengunjungi pameran buku. Mereka yang hanya sesekali saja mengunjungi pameran buku sekitar 40 persen responden. Sisanya, sekitar 12 persen responden saja yang rajin datang ke pameran buku dan umumnva mereka adalah responden yang tinggal di kota-kota besar di Jawa. Masuk akal, mengingat selama ini pameran buku baru menjangkau kota-kota di Jawa, sementara kota-kota di luar Jawa belum banyak disentuh.

Sama halnya dengan tingkat pendidikan, tingkat penghasilan atau pengeluaran responden juga memengaruhi kebiasaan membaca buku. Semakin tinggi pengeluaran responden semakin tinggi persentase responden yang memiliki kebiasaan membaca. Sebagai gambaran, responden dengan tingkat pengeluaran sebulan kurang dari Rp 500.000, yang punya kebiasaan membaca tiap hari sebesar 28 persen. Sementara yang tingkat pengeluarannya di atas Rp 2 juta, persentase responden yang punya kebiasaan membaca buku tiap hari sebanyak 37 persen.

Tak hanya dalam soal kebiasaan membaca buku, intensitas berkunjung ke toko buku, anggaran untuk membeli buku, dan waktu yang dialokasikan untuk membaca buku pun dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pengeluaran responden. Semakin tinggi tingkat pengeluaran dan pendidikan responden semakin tinggi pula intensitas responden mengunjungi toko buku, anggaran untuk membeli buku, dan waktu yang dihabiskan untuk membeli buku. Dengan kata lain, selama tingkat penghasilan dan tingkat pendidikan masyarakat masih rendah, maka minat dan konsumsi buku masyarakat di negeri ini akan sulit untuk terus berkembang. (Anung Wendyartaka / Litbang Kompas)

Tidak ada komentar: