Jika kita melihat dunia pelajar dan remaja adalah sebuah bidang dunia yang vertical dan horizontal dan bahkan berbentuk bidang diagonal. Banyak sekali kecenderungan remaja dan pelajar penyebab dari sebuah problematika, dan bahkan merupakan doktriminasi intelektual dari semua aspek kehidupan. Remaja yang telah terdoktrin seperti ini akan menimbulkan citra negative yang kan menjadi sebuah prasasti sepanjang masa, bahwa remaja dan pelajar adalah produsen problematika. Memamg jika kita tinjau dari segi bahasa, kata pelajar dan remaja mengandung makana dan arti yang sangat berbeda sekali dan mungkin adapun kesamaan itupun hanya minim sekali, yaitu sama-sama seumuran saja, jadi hanya pada bentuk fisik saja.
Sekilas tentang perbedaan antara remaja dan pelajar.
- Pelajar merupakan klas social tertentu yang tergabung dalam dunia pendidikan (khususnya sekolah) dan akan memperjuangkan hak-haknya jika tidak terpenui.
- Ada satu kepentingan sama yang dimiliki oleh pelajar sebagai orang yang sedang menempuh study di bangku sekolah.
- Pelajar memiliki posisi tawar untuk menentukan kebijakan dalam dunia pendidikan, karena pelajar merupakan salah satu stakeholder dan terkadang menjadi korban penindasan dari sebuah kebijakan. Sehingga pelajar menjadi satu klas yang sering dilupakan.
- Dengan status “pelajar”ada semangat keilmuan (cerdas, taqwa, terampil) yang ingin dibangun untuk cita-cita pencerdasan palajar itu sendiri, agar menjadi klas social tertentu yang bernafaskan keadilan, kemakmuran, dan diridhoi oleh Allah SWT.
Itulah sekilas perbedaan yang dimiliki oleh seorang pelajar, sungguh sangat ironis sekali jika ada seorang yang mengaku dirinya pelajar, akan tetapi dirinya tidak seperti cirri-ciri seoarang pelajar diatas. Dari uraian tentang pelajar dan remaja, maka masih ada saja yang menyebutkan bahwa seoarang pelajar dan remaja adalah sebuah kelompok produsen problematika semata, tanpa memandang bahwa masih ada kelebihan dan keutamaan dari seorang remaja.
Beberapa isu berdasarkan metode analisis problematika yyang dihadapi dunia pelajar dan remaja, yaitu :
1. Agama
Remaja meninggalkan rituallisasi agama seperti sholat dan mengkaji kitab suci, internalisasi nilai-nilai keagamaan tidak melekat pada diri remaja, serta terjadi degredasi moral. Praktek keberagaman yang demikian rigit cenderung melahirkan kesalehan individu yang dinikmati secara personal. Sehingga agam hanya bersifat ritual dan tidak peka realita. Agam tidak mampu menggerakkan orang beragama untuk melakukan perubahan atas perubahan yang timpang. Sehingga agama dalam keadaan demikian hanya sebuah ilusi. Karena itu, agama harus menggerakkan pemeluknya untuk melakukan aktivisme sejarah untuk mengubah realitas dunia yang tidak adil.
2. Pendidikan
Pendidikan yang tidak merata di seluruh pelosok negeri, komersialisasi pendidikan yang mengakibatkan biaya sekolah menjadi mahal, fasilitas pendidikan yang minim dan tidak berkualitas, akses dan distribusi buku yang tidak merata di semua sekolah, serta adanya pemaksaan/penindasan terhadap pelajar melalui pemadatan kurikulum sehingga menghilangkan sisi-sisi kemanusiaan pelajar. Disamping itu, wilayah pendidikan tidak hanya pendidikan an sich, tetapi pendidikan kesehatan menjadi hal yang sangat penting. Kerena sebagian pelajar mengalami problem berkaitan dengan kesehatan, seperti kekurangan pangan yang berakibat pada gizi dan nutrisi yang rendah, konsumsi narkotika dan zat adiftif, serta sebagian lagi gandrung dengan seks bebas.
3. Budaya
Budaya konsumerisme dan hedonisme yang memberikan”mimpi-mimpi tinggi”kepada pelajar dan remaja, mengikuti model kebarat-baratan (westernized), malas membudayakan tradisi membaca dan menulis, gagap teknologi mutakhir, sering menjadi actor tawuran dan keributan masyarakat, tidak percaya diri, dan belum mandiri.
4. Sosial-politik
Posisi pelajar-remaja dengan usia yang berada pada keadaan labil cenderung menjadi objek oleh pemegang kebijakan, palajar sering dikucilkan dari kenyataan hidup, kekerasan terhadap pelajar dan remaja, perdagangan anak-anak dibawah umur dan sejumlah eksploitasi lainnya. Posisi yang demikian lemah, pelajar-remaja sering tidak berdaya dalam negoisasi dan agregasi kepentingan. Akibatnya posisi pelajar-remaja sangat lemah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar